Lompat ke isi
MerdekaTrade

Planner agenda pasar & cara membaca berita forex

Lembar pendukung · FundamentalDiperbarui 28 September 2026

BI-Rate dan rupiah: membaca keputusan Bank Indonesia saat kurs di atas Rp17.000

Sepanjang 2026, rupiah pernah melemah melewati level Rp17.000 per satu dolar Amerika. Saat kurs menjadi berita utama, pengumuman BI-Rate ikut disorot. Lembar ini menjelaskan apa itu BI-Rate, dari mana namanya, dan bagaimana Bank Indonesia sendiri menggambarkan kaitannya dengan rupiah.

Jalur jam 06.00–23.00 WIB · penanda di bawah adalah contoh ilustrasi, bukan jadwal rilis sungguhan

  1. 110.00rendahRilis inflasi bulanan oleh BPS (contoh)
  2. 214.00tinggiPengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur BI (contoh)
  3. 314.30sedangKonferensi pers Gubernur BI (contoh)
  4. 416.30rendahMencatat kurs referensi rupiah hari itu (contoh)

tinggi sedang rendah

Gedung bank sentral bergaya klasik dengan deretan pilar saat matahari terbenam

Di kalender ekonomi, keputusan Bank Indonesia muncul dengan kode IDR. Bagi trader internasional, rupiah tergolong mata uang pinggiran, tetapi bagi pembaca di Indonesia keputusan ini menyentuh banyak hal sekaligus: bunga pinjaman, harga barang impor, dan nilai tabungan. Mari mulai dari definisinya.

Apa itu BI-Rate

Menurut Bank Indonesia, BI-Rate adalah suku bunga kebijakan yang didasarkan pada transaksi reverse repo bertenor 7 hari. Instrumen ini dipilih karena bersifat transaksional dan punya hubungan yang lebih kuat dengan suku bunga pasar uang. Sinyal kebijakan ini diharapkan merambat ke suku bunga pasar uang antarbank semalam, IndONIA.

Riwayat nama suku bunga kebijakan BI, menurut situs Bank Indonesia
TanggalPeristiwa
19 Agustus 2016Suku bunga kebijakan berbasis reverse repo 7 hari mulai diterapkan dengan nama BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR)
21 Desember 2023Bank Indonesia mulai memakai nama BI-Rate untuk memperkuat komunikasi kebijakan moneter

Jadi ketika Anda membaca arsip berita lama yang menyebut "BI7DRR", yang dimaksud adalah instrumen yang sama dengan BI-Rate sekarang, hanya berbeda nama.

Tujuan Bank Indonesia dan kerangka kebijakannya

Dasar hukum BI, yaitu UU 23/1999 yang telah diubah antara lain oleh Undang-Undang P2SK tahun 2023, menetapkan tujuan BI untuk mencapai stabilitas nilai rupiah, memelihara stabilitas sistem pembayaran, dan turut menjaga stabilitas sistem keuangan demi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Stabilitas nilai rupiah punya dua sisi: harga barang dan jasa di dalam negeri (inflasi) serta nilai tukar terhadap mata uang negara lain.

Sejak 1 Juli 2005 BI menerapkan kerangka Inflation Targeting Framework, yang kemudian berkembang menjadi versi fleksibel. Selain menargetkan inflasi, kerangka ini memperhitungkan nilai tukar dan arus modal, bauran dengan kebijakan makroprudensial, koordinasi dengan pemerintah, serta komunikasi kebijakan.

Jalur dari BI-Rate ke rupiah

Bank Indonesia menggambarkan satu jalur penting: BI-Rate yang lebih tinggi cenderung menarik modal asing, yang dapat menguatkan rupiah; rupiah yang lebih kuat menekan harga barang impor sehingga membantu pencapaian sasaran inflasi. Jalur ini bekerja bersama banyak faktor lain, antara lain kebijakan Federal Reserve. Ketika suku bunga AS naik, seperti keputusan FOMC 16 September 2026 yang membawa kisaran target ke 3,75–4%, selisih imbal hasil antara aset rupiah dan aset dolar ikut berubah.

Hubungan ini bukan rumus pasti. Menaikkan atau menahan BI-Rate tidak menjamin rupiah langsung menguat. Pelaku pasar menimbang banyak hal sekaligus, termasuk ekspektasi terhadap keputusan berikutnya.

Rupiah 2026 dan aturan valas yang berubah

Pada data acuan ECB bertanggal 25 September 2026, satu dolar AS dihargai Rp17.914. Bersamaan dengan itu, BI mengencangkan ketentuan jual-beli valas:

Aturan ini lebih banyak menyentuh penukaran dan pengiriman uang, bukan perdagangan forex spekulatif, tetapi menunjukkan bahwa kebijakan nilai tukar tidak hanya berbentuk suku bunga.

Ilustrasi dampak kurs pada kebutuhan dolar

IlustrasiSeseorang perlu US$500 untuk membayar kursus daring. Dengan kurs karangan Rp16.500 biayanya Rp8.250.000; memakai kurs acuan per 25/9/2026 sebesar Rp17.914, tagihannya menjadi Rp8.957.000. Selisihnya Rp707.000, atau sekitar 8,6% lebih mahal, tanpa harga kursus berubah sedikit pun.

Membaca pengumuman hasil RDG Bank Indonesia

  1. Cari siaran pers "Hasil Rapat Dewan Gubernur" di situs Bank Indonesia pada tanggal pengumuman.
  2. Catat keputusan BI-Rate beserta suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility yang diumumkan bersamaan.
  3. Baca alasan yang disebut: inflasi, nilai tukar, pertumbuhan, atau kondisi global.
  4. Perhatikan kebijakan pendamping, misalnya langkah stabilisasi nilai tukar atau aturan makroprudensial.
  5. Bandingkan dengan keputusan Federal Reserve terakhir untuk melihat arah kedua bank sentral.

Kami sengaja tidak mencantumkan level BI-Rate terbaru di sini karena angka itu bisa berubah di rapat berikutnya dan tidak dapat kami perbarui otomatis. Selalu ambil angkanya langsung dari siaran pers resmi.

Untuk kerangka yang lebih luas, baca rubrik analisa fundamental, dan untuk perbandingan dengan bank sentral Eropa, lihat suku bunga ECB dan inflasi zona euro.